jam

Sabtu, 24 Oktober 2009

Sejarah dan Pengertian Feminis

MMMMMMMMMMmmmmmmmm………………..
Sebenernya apa sih feminis itu ???????? Di zaman sekarang ini istilah feminis udah ga asing lagi di telinga kita. Kita ulas sedikit yu tentang feminis.
Dari mata kulaih etika dan filsafat komunikasi yang gw dapat di semester 4 kemaren olah salah satu dosen  favorit gw, dosennya pernah bilang kaya gini niy, “ dalam bahasa Inggris itu kan sering ada kata-kata, chairman, post man, dan kata-kata lain yang berkhiran  -man. Jarang loh atau mungkin hampir ga ada yang menyebut post woman, atau chairwoman. Mereka menyadari adanya diskriminasi  yang dialami perempuan karena jenis kelaminnya.

Untuk informasi tambahan juga niy Sejak zaman dahulu di Barat, bagi tokoh-tokoh seperti Plato dan Aristoteles, diikuti oleh St. Agustinus dan Thomas Aquinas pada Abad Pertengahan, hingga John Locke, Rousseau dan Nietzsche di awal abad modern, citra dan kedudukan perempuan tidak pernah dianggap setara dengan laki-laki. Wanita disamakan dengan budak dan anak-anak, dianggap lemah fisik maupun akalnya. Paderi-paderi Gereja menuding perempuan sebagai pembawa sial dan sumber malapetaka, biang-keladi kejatuhan Adam dari sorga.

Pernah nonton dong atau baca novel Da Vinci Code karya Dan Brown yang “based true story itu”, dalam  novelnya menceritakan kalau kaum perempuan yang seharusnya memegang kendali atas gereja kuno yang terkenal itu tidak diperkenankan karena ia perempuan (mudah-mudahan betul, bacanya 2 tahun yang lalu, hehe)
Inilah asal muasal timbul gerakan feminis dari para kaum wanita di Barat. Katanya, knapa harus laki-laki yang bisa menempatkan posisi di dunia kerja, apa salah apabila wanita yang ada di posisi itu?

Istilah feminis tentu saja datang dari Barat, Tapi sejarah feminis itu sendiri dimulai pada abad 18 oleh R.A Kartini melalui hak yang sama atas pendidikan bagi anak perempuan. Ini sejalan dengan Barat di masa pencerahan/The Enlightment oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis den Condorcet yang berjuang untuk pendidikan perempuan (ribet yah namanya). Perjuangan feminis sering disebut juga gelombang/wave dan banyak menimbulkan kontoversi.
Salah satu aliran Feminis yang gw pelajarin adalah feminis radikal, dan mempunyai 3 pikiran :
1.       Perempuan mengalami penindasan dan yang menindas adalah laki-laki.
2.       Perbedaan gender yang sering disebut Maskulin dan Feminin adalah diciptakan oleh masyarakat itu sendiri.
3.       Penindasan oleh laki-laki yang paling utama dari seluruh bentuk penindasan lainnya.
Tercatat tokoh-tokoh semisal Clara Zetkin (1857-1933) di Jerman, Hélène Brion (1882-1962) di Perancis (penulis selebaran La voie feministe dengan subjudulnya yang terkenal, “Femme: ose être !” (Hai perempuan, beranilah menjadi diri sendiri!), Anna Kuliscioff (1854-1925) di Italy (pendiri liga wanita dan jurnal La Difesa delle Lavoratrici), Carmen de Burgos alias ‘Colombine’ (1878-1932) di Spanyol, Alexandra Kollontai (1873-1952) di Russia, dan Victoria Claflin Woodhull (1838-1927), wanita Amerika pertama yang mencalonkan diri sebagai Presiden pada 1872.
Pemikiran ini terus berkembang loh, dan karena inilah munculnya feminis lesbian. Ga hanya itu aj yang dihasilkan oleh aliran feminis,  “The end of the institution of marriage is a necessary condition for the liberation of women” (Declaration of Feminism, 1971). Dari deklarasi tersebut, kaum feminis menganggap institusi pernikahan sebagai The Frakenstein Monster (dalam film horor: sesosok mayat manusia dihidupkan kembali dan memiliki rupa menyeramkan, sadis, bahkan menjijikkan) harus diperangi demi kebebasan perempuan.
Selain itu, Robin Morgan, Editor Ms. Magazine (majalah kebangsaan kaum feminis), mengatakan bahwa pernikahan hanya akan menghambat kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Bahkan Sheila Cronin, tokoh terkemuka kaum feminis menganggap pernikahan tak ubah sebagai praktik perbudakan terhadap perempuan. Selain itu ada juga pernyataan:
“…Sheila Cronin, tokoh terkemuka kaum feminis menganggap pernikahan tak ubah sebagai praktik perbudakan terhadap perempuan.”
Feminis-feminis radikal menyebabkan munculnya kaum wanita yang menghalalkan aborsi, merayakan lesbianisme dan revolusi seks. Bagi para feminis radikal, menjadi seorang istri sama saja dengan disandra. Tinggal bersama suami dianggap sama dengan living with the enemy.
Tapi itu semua gerakan feminis di Barat loh, untuk gerakan feminis di Indonesia ga kaya gitu, sangat berbeda sekali dengan gerakan emansipasi yang diprakarsai Kartini.



Senin, 19 Oktober 2009

Sejarah Emansipasi Wanita


Emansipasi wanita adalah perjuangan wanita menuntut hak-nya agar bisa sederajat dengan laki-laki seperti hak untuk bekerja seperti laki-laki, hak berpendapat seperti laki-laki, hak menjabat posisi seperti laki-laki bahkan sampai dengan posisi presiden.


Buat ngingetin aja, tokoh emansipasi wanita yang terkenal di Indonesia adalah R.A Kartini. Beliau lahir tanggal 21 April di Jepara. Dalam bukunya  Habis Gelap Terbitlah Terang, diterjemahan Armijn Pane (Balai Pustaka, 1982). Terdapat sebuah surat Kartini tertuju kepada Nn Zeehandelaar (6 November 1899): “Engkau bertanya, apakah asal mulanya aku terkurung dalam empat tembok tebal. Sangkamu tentu aku tinggal di dalam terungku atau serupa itu. Bukan. Stella, penjaraku rumah besar, berhalaman luas sekelilingnya, tetapi sekitar halaman itu ada tembok tinggi. Tembok inilah menjadi penjara kami. Bagaimana luasnya rumah dan pekarangan kami itu, bila senantiasa harus tinggal di sana sesak juga rasanya.”

Dalam surat diatas, Kartini menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki tak dikenal, dan harus bersedia dimadu. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa, dunianya hanya sebatas tembok rumah. Sebagai misal, Kartini saja hanya sampai usia 12 tahun diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School)—harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit. (parah yah jaman dulu)



Dengan adanya gerakan emansipasi wanita dari R.A. Kartini, tentu menjadi menjadi tolak ukur untuk mengubah gaya hidup yang sepertinya mengkungkung wanita. Perubahan zaman dan tuntutan hidup seolah-olah menjadi factor pendukung lain yang mengubah itu semua. Kini dapat kita lihat banyak wanita yang bekerja di kanoran, bahkan ada yang sudah menjadi presiden pertama wanita di Indonesia yang sudah pasti dan tidak lain adalah Ibu Megawati Soekarno Putri. Dahulu, yang namanya wanita katanya hanya untuk urusan di dapur saja. Parah ya.


Tapi ternyata ga Cuma dulu aja, belakangan ini gw juga pernah nemuin kasus yang menurut gw “God kenapa tante berpikir kaya gitu” (sorry yah tante). Jadi saat gw di SD ade gw, gw ketemu mamanya sebut saja AB. And then gw tanya, “AB kuliah atau kerja tante”. Tantenya menjawab “AB mah kerja aj, ngapain kuliah tinggi. Ujung-ujungnya juga nanti di dapur kan.” What ????????????


Girl’s walaupun kita ujung-ujungnya di dapur, ngurusin suami dan anak, kita juga harus mendapat pendidikan. Ga mau kan udahnya kita dibodoh-bodohin.

;;