meskipun beliau pendidikan nya ga nyampe kuliah, tapi cara berpikir belaiau patut untuk dicontoh.
dari beliaulah gw dapat pelajaran hidup kalau belajar ga haruz di bangku sekolah. pengalaman hidupnya dan tanggung jawab yang diembannya selama menjadi ibu membuatnya tanggap dan sigap mengahadapi hal yang dianggapanya dapat mengancam keluarga.
Mama terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja, bahkan bisa dibilang pas untuk ekonomi. Mama gw anak ke 6 dari 9 bersaudara. nenek gw yang banting tulang untuk memenuhi ke sembilan anaknya, maklum kakek gw pekerjaannya ga tetap. sulu sebelum berangkat sekolah, beliau haruz mengantarkan kue ke toko-toko untuk dijual, begitu pula adik dan kakaknya.
karena suatu masalah dari ke sembilan anak nenek gw, ga semua kuliah. mamah gw mengalah untuk tidak melanjutkan sampai kuliah. beliau rela berkorban agar adik-adiknya yang kuliah, I'm very proud with her.
Mamah ga up to date sama perkembangan teknologi jaman sekarang. Beliau sungguh-sungguh mendidik kami sebagai anak dengan berbasis pada ajaran agama yang kami anut, yaitu Islam. Gw inget waktu itu mamah pernah bertatih kepada anak-anaknya, “seletih apapun kalian, jangan pernah tinggalkan salat 5 waktu, itu adalah tameng kalian hidup di zamana yang udah edan ini”.
Selama menjadi ibu dari keempat orang anak-anaknya, tak pernah kulihat ia menangis. Beliau sangat tegar, meskipun cobaan hidup yang datang pada dirinya tidak sedikit. Katanya “kalau mama nangis, nanti bagaimana anak-anak mama???”
Meskipun Beliau ga kuliah, tapi ia bertekad bahwa gw harus kuliah, ia ga mau anak-anaknya mengalami hal yang sama dengan dirinya waktu dulu. Begitu pula adik-adik gw, doktrinasi tentang pendidikan yang harus dinomorsatukan, telah ditanamkan kepada kami semua sejak kecil. Dengan gw bias kuliah sampai detik ini merupakan puji syukur bagi Allah, karena selain bersyukur gw bisa kuliah (dalam kelurga gw baru gw yang kuliah, kakak ga kuliah), dan mempunyai mama seperti beliau.
God sering gw buat marah dan kesel mama, tapi segimanapaun juga punya haka apa kita untuk membencinya? Ya Allah, aku rela aku sakit aslakan mamah bahagia. Proses pendewasaan yang gw alami saat ini ga lepas dari peran sang mama. Keberhasilan yang insya Allah akan gw raih nanti, semata-mata hanya untuk beliau. Ia berpesan “Harus selalu mandiri, tegar, jangan lupa salat 5 waktunya, dan kuat dalam menjalani apapun, dan yang paling penting hati-hati mencari lelaki, jangan bergantung pada suami saat sudah nikah nanti”. Oke deh mom.
low profile, itulah diriku. tapi banyak yang bilang kalu gw sombong n jutek, padahal kalu belum kenal, gw itu pemalu. tapiii kalu udah deket, waaaaaaahhhhh rameh dah.
secara keseluruhan gw suka sama yang rameh rameh, ga suka sama sesuatu yang stagnan. tapi ada suatu saat dimana gw lebih suka sendiri.
ga up to date sama mode, karena gw pikir yang namanya mode itu cocok-cocokkan toh, n untuk urusan penampilan gw apa adanya aj.
gw setia sama yang namanya persahabatan n cinta.